Tuesday, 10 July 2018

Andai Waktu















Andai Waktu

Andai waktu berhenti berdetak
Akankah kau tetap mencintaiku
Atau pudar dalam kebisuan
Andai matahari berhenti terbit
Masihkah rinduku tersimpan
Atau terjerembab dalam gelapmu

Andai malam tak benar-benar datang
Masihkah kau menantikan pelukanku
Atau terasing dalam mimpi-mimpimu
Andaikan waktu adalah suatu lingkaran
Ia akan kesepian mengitari dirinya
Sama sepertiku sesepi tanpa dirimu

Andai waktu benar-benar berhenti berdetak
Ingin ku ajukan satu permintaan kepada Tuhanku
Untuk menyatukan aku dan kamu dalam satu rangkaian rindu
Sampai benar-benar waktu berputar kembali hingga tak pernah berhenti

Tuesday, 23 January 2018

Penghancuran Buku Dari Masa ke Masa




Bakarlah buku-buku jika ingin menghancurkan peradaban intelektual suatu bangsa, hancurkanlah perpustakaan nasionalnya jika ingin menghancurkan budaya dan sejarah masa lalu suatu bangsa.

Penghancuran dan pembakaran buku sudah berlangsung lama dalam hal ini Fernando Baez menjelaskan secara rinci tentang sejarah penghancuran buku, dari masa kekuasaan di Byzantium hingga abad 20 sampai sekarang.

Kepentingan dan pertentangan pada dunia politik, kekuasaan dan perang yang memicu terjadinya pembakaran atau penghancuran, selain itu pertentangan akan norma –norma agama juga ikut adil dalam sebuah peristiwa pembakaran buku. Bayangkan ribuan buku yang merupakan kekayaan intelektual  yang tersusun ribuan tahun  harus musnah dalam hitungan jam, sungguh merupakan suatu musibah yang begitu memilukan,

Buku ini membawa kita ke masa-masa memilukan terkait dengan kehancuran perpustakaan , museum baik yang disebabkan karena kepentingan politik, bancana alam,dan kesucian akan suatu agama dan peradaban,

Dampak dari hancurnya buku , kitab atau manuskrip-manuskrip langka adalah kehancuran budaya masa lalu beserta sejarahnya suatu bangsa atau kaum.
Dari berbagai hal yang telah ditulis dalam bukunya Fernando Baez mengumpulkan secara garis besar bahwa penghancuran dan pembakaran buku dimotifkan akan kekawatiran bahwa buku-buku telah merecoki pikiran dan terus mengusik para penguasa dan mengancam akan eksistensinya.

Para fasis takut akan buku karena buku adalah parit-parit ingatan, dan ingatan adalah dasar bagi perjuangan keadilan dan demokrasi, sementara kaum religius berpandangan bahwa adanya ketakutan akan kesesatan-kesesatan yang dibawa dan kawatir akan mengotori kesucian ajaran suatu agama.

Bagiku buku tetaplah buku, tempat para penulis menuangkan pikiran, ide, dan gagasan, idiologi dan pendapatnya terlepas mereka benar atau salah menurut orang lain. Menghilangkan dan menghancurkan buku karya seseorang adalah sebuah tindakan yang keji.  Untuk melawan gagasan atau idiologi, pikiran atau ide dalam sebuah buku adalah membuat opini, jurnal,atau buku bantahan terhadap apa yang kita pertentangkan, adulah gagasan buku lawan buku hal ini akan menjadikan pertarungan intelektual yang terhormat.

@genk

Thursday, 19 October 2017

Cicip Kopi : Rumah Kopi Nusantara




Bertepatan dengan hari kopi internasional yang jatuh tanggal 1 Oktober kemarin, saya  sengaja  meluangkan waktu singgah di Rumah Kopi Nusantara, Berawal ajakan teman untuk hunting foto sekalian tes kamera baru saya.  Jauh –jauh dari Bekasi mengunjungi  Taman Mini Indonesia Indah dan singgah di Rumah Kopi Nusantara yang berada di kawasan TMII tepatnya  ada di depan Istana Anak .


Siang itu langit masih begitu cerah, walau nampak awan hitam terlihat di kejauhan, namun terik  matahari  masih begiitu menyengat. Berkeliling di kawasan TMII sambil hunting beberapa foto yang bertema Human interest (Temen saya  Dani lagi suka dengan tema ini) cukup menyenangkan.
Canon M10  pun lumayan menghasilkan gambar yang sesuai selera saya, komposisi warna terlihat keren dibanding dengan kamera yang saya punya sebelumnya. Beberap kali kami fokus mencari objek apa yang sekiranya cocok untuk difoto.  Berkeliling di sekitaran TMII cukup melelahkan ditambah hawa panas yang masih begitu menyengat.

Sore sudah mulai datang ketika kami memutuskan untuk singgah sejenak dan menikmati secangkir kopi, dan tak lama kemudian kami sudah merasakan sejuknya udara di dalam rumah Kopi Nusantara.
Kesan pertama melihat display dekorasinya cukup sederhana tidak jauh beda dengan kedai-kedai kopi pada umumnya, beberapa coblong kaca berisi kopi sesuai jenis dan asalnya, ada biji Kopi gayo dari Aceh, Kopi Bali, Sumatra, Kopi Toraja dari Sulawesi, Papua, Flores Bajawa dan semuanya cukup menggoda untuk dicicipi.


Pernak-pernik alat penyeduh kopi , mesin penggiling kopi dan mesin espresso juga menjadi daya tarik tersendiri, selain keramahan dan keahlian mas-mas barista tentunya.
Sore ini saya memesan secangkir coffe late, ditemani sosis bakar yang lumayan mengenyangkan sambil meneruskan bacaan ku sebentar , untuk selanjutnya bercerita tentang banyak hal bersama sahabat lama.


Irama musik mengalun pelan , seiring senja yang bergulir begitu indahnya. Kopi tetaplah kopi ada banyak cerita disetiap cangkirnya, dan di sini setelah lelah berjalan, duduklah sejenak dan nikmati kopi kesukaanmu.

@genk
Pic by: Dani