Sunday, 9 November 2014

Secangkir Cappuccino di Stasiun Senen





Riuh para penumpang kereta hilir-mudik tanpa henti, dari satu jam yang lalu aku duduk manis ditemani buku bacaan dan segelas capuccino yang aku beli di sevel. Menikmati hilir mudiknya calon penumpang dan menjadi bagiannya dalam jejeran kursi tunggu. Malam yang semakin temaram degan lampu kota yang mulai menyala kuning kerlip keemasan. Menunggu dan melamun sebelum perjalanan malam ini dimulai.

Kopi malam ini sedikit memberikan secerah inspirasi, hingga membangkitkan ku untuk mulai menarikan jari-jemariku, mencoba menulis disela waktu tungguku.

Untuk kesekian kalinya aku pulang dan pergi, dan di tempat ini seperti biasanya aku menunggu sejenak, membaca dan menulis sambil ku nikmati kopi malam ku.
Rasanya ini bagian rutinitasku disaat aku melakukan perjalanan, ya membaca dan menulis sebuah kebahagian tersendiri,  untuk itu setiap melakukan perjalanan buku merupakan satu hal yang wajib aku bawa untuk teman perjalanan.

Menjemput impian, membunuh kangen tethadap malaikat-malaikat kecil yang senantiasa menunggu kepulanganku. Rasa kangen yang terpendam dalam kejamnya waktu, jarak yang ikut memperparah kerinduanku dan juga malaikat-malaikat kecilku pastinya. "Ayah kapan pulang lagi ?" Ucapnya.

Menyesakkan rasanya disaat mereka kangen, namun tidak serta merta aku bisa terbang mendekapnya  melepas kangennya, butuh waktu, dan  ini teramat menyiksa bagi ku

Ini hanya sebuah cerita perjalanan hidup, tentang kerinduan dan kasih sayang antara ayah dan keluarga kecilnya yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Semua orang di luar sana pun akan mengalaminya.
Tak selayaknya aku menyerah, malah harus menjalaninya, menuliskannya dan kelak malikat-malaikat kecilku akan membacanya.

Ketika rasa ini sudah menggebu, ketika jenuh ini sudah memuncak, ketika semua orang sibuk degan urusanya masing-masing, ketika pekerjanku membunuh rasa sepiku, disaat itu pula aku akan sedikit menarik diri, mengasingkan dan pergi melakukan perjalanan dan menghirup udara segar daerah baru, walaupun harus ditegur oleh si bos.

Atau aku akan pulang, melepas lelah dan kangen, bercengkrama bersama keluarga kecil sambil mengajarkan petualangan bersama , menyaksikan senyum dan tawanya berlari mengejar asa, bermain dengan alam, menyaksikan sebuah keajaiban. Di sana nanti akan ku temukan jawaban pelepas lelah dan obat yang selama ini aku cari, kasih sayang, keharmonisan keluarga kecilku.

Tak terasa segelas capuccino ku tinggal setengah, perpaduan pahit kopi dan lembut susu terasa begitu berwarna, layaknya pahit dan manisnya hidup.

Sebentar lagi keretaku akan lepas landas meninggalkan ibu kota dan menuju daerah-daerah baru bersama hilangnya kejenuhan yang menyiksaku.

Saat yang terindah bagiku, perjalanan hati menjemput mimpi dan kerinduan, ditemani bintang-bintang malam ini yang terlihat semakin cantik.

Menembus gelap pekatnya malam, keretaku melaju tanpa malu, Ku tutup buku catatanku ku hentikan kegiatan menulisku kurasakan putusan sabungn rel keretaku, dan malam ini biarlah kereta ini membawaku sampai akhir pemberhentianku nanti
@genk.

St.Senen 10 Oktober 2014

No comments:

Post a comment

Damai Hati Ini Akan Selalu Ada

Hamparan sawah tandus menghampar sepanjang penglihatan dalam perjalanan ini, musim kemarau masih berlalu entah sampai kapan, bongkah...