Tuesday, 19 May 2015

Dua Cangkir Kopi Di Suatu Senja

Ia mulai duduk di kursi kayu coklat kusam, berbaur  dengan beberapa orang yang  duduk terlebih dahulu, mereka menikmati segelas kopi dan beberapa potongan pisang goreng yang tersaji di depannya.

Perlahan ia meletakkan tas ranselnya  yang terlihat penuh, lalu  mengeluarkan  laptop  hitam, dan perlahan mulai membukanya , meletakkan di meja sempit di depanya .

Orang-orang   mulai melirik ingin tahu apa yang ingin dilakukannya, dan ia pun hanya tersenyum ketika  pandangan matanya beradu, tidak banyak pembicaraan yang terjadi, orang-orangpun kembali sibuk dengan lamunannya, sesekali obrolan ringan dan tawa kecilnya membuyarkan kedamaian di kedai ini.

“mau minum apa nak..?”  Tanya bapak pemilik warug

“Bisa tolong  buatkan secangkir  kopi  hitam pak…?”‘ pintanya

“tentu nak……”

Terlihat kesibukan kecil bapak tua itu membuat racikan secangkir kopi, mulai menakar bubuk kopi yang sudah dihaluskan terlebih dahulu, mencampur dengan sedikit gula dan selanjutnya menuangkan air panas dari ceret kusamnya ke dalam secangkir putih.

Tak lama berselang secangkir  kopi hitam tersaji di depannya, aroma  wanginya menyebar dari uap panas yang dihasilkan,

“ Silahkan dinikmati kopi kebahagiaan ini nak…” ucapnya

Senyum bapak tua itu tersungging bersmaan dengan secangkir kopi yang ia sajikan.
##

Ia mulai mengaduk perlahan namun belum meminumnya, merasakan aroma khasnya dan menunggu sedikit dingin untuk selanjutnya merasakan kehangatanya,
Ia mulai sibuk dengan laptop hitamnya sesekali  memandang beberapa orang  yang hilir mudik  lewat di depanya, melamun berharap mendapatkan inspirasi  untuk  selanjutnya menuliskan jalan  ceritan melalui tarian jari jemari di atas keybord leptopnya.

Mungkin ia seorang penulis yang selalu menuliskan berbagai hal tetang hidup , kegelisahan hati, atau tentang apa  saja yang ingin ditulisnya.

Diminumnya perlahan kopi yang mulai sedikit dingin, perlahan ia rasakan dengan seksama, satu dua sruputan ia coba dan seolah ia menikmati kopinya.

“ Ini kopi apa pak ?  “  tanyanya.

Sambil tersenyum  bapak tua itupun menjawab dengan penuh keramahan

“Kopi hitam biasa nak..”.
“ kenapa nak  ada yang kurang berkenan dari kopi bapak?”

“Hmmmm…” ia melanjutkan sruputanya.

“ Nggak pak.kopinya bener-benar nikmat sekali.”.

Dari beberapa kedai kopi  yang ia datangi, dari beberapa jenis minuman kopi  yang ia coba mulai yang mahal hingga teramat mahal, ia merasakan selama ini kopi-kopi tersebut hanya sebagai teman duduk, memberikan rasa yang wah, namun hampa tanpa  terpikirkan akan makna, nikmat tapi ia merasakan hanya sekedar nikmat  yang ia paksakan mengikuti gaya hidup bersama teman-teman kantornya.
Kafe,maupun Kedai kopi  baginya bukan hal yang baru , malah hampir  bisa dipastkan seminggu sekali ia pergi bersama teman kerjanya, mencoba mencari makna hidup dari segelas kopi yang ia minum, namun selama perjalananya belum ia temukan sesuatu yang memikat dan memberikan makna hidup yang berarti  , baginya kopi selama ini hanya sekedar kopi biasa , ia bisa membeli kopi semahal apa saja di kafe terkenal di Jakarta.
Namun semuanya bias, semu, dan kosong tanpa makna.

“ Silahkan dicoba juga pisang gorengnya nak, ini pisang goreng buatan istri saya tadi pagi” tawarnya.

“ Terimakasih pak..”

Potongan pisang goreng ini tidak sebesar pisang goreng yang biasa ia makan di kafe, kecil dengan balutan gandum menutupiya, ia mulai memasukkanya ke dalam  mulut, lama ia terdiam , seolah sedang merasakan, mengecap dan mencari perbendaharaan kata yang ingin ia ungkapkan, namun untuk sekian lama ia berfikir ia belum mampu menemukan kata apa yang pas untuk mengunggkapkan rasanya.

“Ini pisang jenis apa pak ? tanyanya kemudian.

“ Jenis pisang biasa nak..pisang  yang saya tanam di halaman depan rumah saya , kebetulan ada 6 pohon dan mateng secara bergantian sehingga saya tidak beli di pasar, hanya mengandalkannya saja dari kebun saya.” 

“maaf kalau Kurang enak  nak..?.
maklum pisang kampung “ he he he.

“Hmmm …tidak –tidak pak, justru ini pisang goreng yang enak sekali”.

Lama ia memadukan sruputan kopi dengan kunyahan daging pisang gorengnya, mengunyahnya perlahan bergantian dengan sruputan perlahan…ada ruang kosong, ruang rasa yang ia benar-benar tidak mampu memahaminya, hanya mengikuti perasaannya merasakan nikmat dan damai yang selama ini baru ia rasakan kembali. Apakah ini makna pencarian kedamaian dan kebahagiaan yang ia cari..? entahlah.

Perpaduan manis pisang dengan pahit kopi hitam yang ia nikmati membawanya  ke dalam relung kosong yang ia temukan tadi, mengalir dan sampai disuatu tempat kebahagiaan dan kedamaian yang ia rasakan.

Tak terasa dua  pisang gorengnya telah melewati proses pencernaanya dan berahir dalam lambung bercampur dengan sedikit demi sedikit nikmat kopi dalam balutan cangkir putih  yang mulai menyisakan ampasnya.
##

Ia mulai menarikan jari-jemarinya pada key bord laptopnya kembali,  sesekali berhenti sejenak, berfikir dan selanjutnya menulis tanpa henti untuk sekian lamanya.

“Boleh minta tolong tambah lagi secangkir  kopi yang sama pak..?” pintanya.

“ Ahhh..tentu saja nak..” ucapnya ramah.

Tidak  butuh waktu lama bagi si bapak tua pemilik warung, ia mulai meracik kembali komposisi kopi buatanya , menyeduh air, menuangkan ke dalam cangkir yang sama dan selanjutnya menghidangkannya didepan si pemuda .
“ Silahkan nak…cangkir kedamaian yang kedua “ ucapnya.

“ Trimakasih ..pak”.

Kembali  ia menyandingkan secangkir kopi disamping laptopnya , memudahkannya mengapai disela-sela  ia menulis, dan rutinitas kejadianpun terulang kembai dari awal dimulai sruputan demi sruputan kecil, diam untuk sesaat, memikirkan sesuatu dan diahiri menarikan jari jemarinya..ia akan terus mengulanginya sampai kopi dalam cangkir kecilnya tinggal menyisakan ampas.

Sudah dua cangkir kopi yang ia habiskan , dengan 4 potong pisang goreng nikmatnya, ia mulai mengahiri kegiatanya, menutup laptop dan memasukkkannya ke dalam tas ransel.

Sedikit ia masih menyuput kopinya memastikan tinggal sisa ampas kopi dalam cangkir kecil.

Hari menjelang senja mendung juga mulai menitikkan air hujan perlahan,kota ini tersasa begitu damai, jalan –jalan mulai basah dan bau tanah pun tercium mewangi seiring butiran hujan yang mulai turun.

“ Berapa semuanya pak..?”.

“12 ribu saja nak” jawab bapak tua pemilik warung.

Ia   mengeluarkan lembaran uang dari dalam dopetnya pecahan 100 ribu selanjutnya ia berikan, ke bapak tua pemilik warung.

“ Kembaliannya buat bapak…trimakasih atas kopi dan pisang yang sangat sangat enak ini” ucapnya.

Lalu ia bergegas melangkah pergi tanpa menoleh dan meninggalkan kedai kecil pinggir jalan itu.

Bapak tua pemlik warung hanya terdiam, matanya sembab berair melihat pecahan 100 ribu dalam tanganya, ia mulai memasukkan ke dalam kotak penyimpan uangnya dan terucap rasa syukur dan doa untuk si pemuda.

Matur nuwun gusti pangeran..
Maturnuwun nak…mugo gusti pangeran sing mbales mu nak…..

@angkringan  st tugu jogja
Maret 2015

No comments:

Post a comment

Damai Hati Ini Akan Selalu Ada

Hamparan sawah tandus menghampar sepanjang penglihatan dalam perjalanan ini, musim kemarau masih berlalu entah sampai kapan, bongkah...