Saturday, 25 July 2015

Langkah-Langkah Kaki #2

Pagi masih gelap ketika aku melangkahkan kakiku meninggalkan kosan tercinta, memulai melangkahkan kaki untuk sebuah petualangan.
Mengejar kereta pagi menuju st.duri untuk bertemu dengan teman-teman seperjalanan.
Ada teman baru yang menemani perjalanan ku kali ini.
Kereta ekonomi jurusan merak masih belum terlihat, jam tanganku masih menunjukkan pukul 6;30 masih ada waktu untuk sekedar istiraht sebentar , berkenalan dengan teman seperjalanan, dan menikmati waktu.
##

Kereta jurusan Rangkas Bitung sudah berjalan 5 menit yang lalu meninggalkan kota jakarta, kira-kira butuh 3 jaman untuk sampai di st. Rangkas.

Udara cukup panas, gerbong 7 kereta yang ku naiki terasa sumpek dengan para penumpang yang menumpuk tanpa tempat duduk, ditambah ac yang tak sanggup mendinginkan ruangan sekitar, hilir mudik penjual minuman dan tahu menambah keriuhan menjadi semakin riuh.

Kereta rangkas masih menerapkan penjualan tiket secara langsung dan masih menyediakan tiket tanpa tempat duduk hal ini mengakibatkan banyak penumpang dengan bebas  memilih tempat duduknya, disamping itu juga lantai terlihat bener-benar kotor karena kurang kesadaranya penumpang dalam membuang sampah.
3 jaman berlalu dengan lambat, dan lega rasanya bisa keluar dari himpitan gerbong ke 7, perjalanan kami telah sampai di st. Rangkas Bitung.


Elf yang akan menghantar ke baduy sudah menunggu rombongan kami, setelah istirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan menuju ciboleger , butuh wajtu 2,5jaman perjalanan dengan menggunakan mobil elf.

Perjalanan degan elf menuju ciboleger juga merupakan tantangan tersendiri, mengingat jalanan yang berliku dan berlubang dihampir sepanjang jalan.
Cuaca yang cukup terik siang ini terasa semakin menyiksa dan perjalanan ini terus berlanjut sampai nanti pemberhentian ahir.
 Dalam guncangan elf menuju tempat awal perjalanan ke dalam perkampungan suku baduy yaitu di Ciboleger.


Setelah sekian lama perjalanan , ahirnya tibalah kami di Cibaloger, sebuah pemberhentian ahir elf kami dan tempat ini merupakan pintu masuk menuju perkampungan suku baduy.
Cukup rame pengunjung siang ini beberapa rombongan hilir mudik, dan terlihat penduduk asli baduy berbaur terlihat mencolok dari pakaian khas yang mereka gunakan.

Merekalah nanti yang menjadi guide sekaligus porter pengunjung yang akan masuk ke baduy, badan- badan tegap dengan kekuatan yang benar-benar luar biasa, membawa tas-tas besar para pengunjung melewati tanjakan dan curaman seolah mereka tidak mempunyai rasa capek.
Untuk biaya porter sekaligus guide mereka tidak mematok bayaran, namun selayaknya kita sebagai pengunjung untuk menghargai dengan memberikan ibalan yang sebanding dengan jerih payahnya, membantu membawa barang bawaan kita.
Bersambung...

No comments:

Post a comment

Damai Hati Ini Akan Selalu Ada

Hamparan sawah tandus menghampar sepanjang penglihatan dalam perjalanan ini, musim kemarau masih berlalu entah sampai kapan, bongkah...