Saturday, 29 August 2015

Suatu Pagi Bersamamu



Ternyata kau memang benar-benar hebat nak, saat ayah datang kata ibuk kau belum bobo dari pagi tadi, biasanya siang kau bobo siang namun karena ibuk bilang ayah mau datang hari ini kau merelakan tidur siangmu hanya untuk menyambut kedatangan ayah.

Betapa bahagianya ayah saat melihatmu dan bertemu dengan mu, sebuah rasa yang tak bisa ayah ungkapkan. Dengan segera kau menyambut tangan ayah menciumnya dan kau bilang “ayahhh gha-gha kangen” walaupun kata-katamu masih belum begitu jelas namun ayah tahu maksudmu nak, betapa rasa kangenmu terhadap ayah yang begitu mendalam sebagaimana rasa kangen ayah terhadapmu dan ibumu ,dan kini untuk sekian waktu kita dipertemukan kembali sampai beberapa hari ke depan. Ayah akan menemanimu setiap waktu-waktu kalian .


Umurmu sudah 18 bulan nak, kau sudah beranjak semakin dewasa, semakin pintar celoteh-celoteh lucu yang membuat ayah tertawa, kepintaranmu yang begitu hebatnya membuat ayah dan ibumu sekali lagi harus menggeleng-gelengkan kepala heran bercampur bangga.

Jalan dipagi hari adalah momen yang terindah saat –saat bersamamu setiap ayah pulang menemuimu nak, melihat gunung dengan udara yang masih segar, dingin angin pagi membuatmu memeluk erat ayah, rasakan dingin pagi ini nak kesegaranya yang begitu nikmat, hirup dalam-dalam udara pagi dan perlahan hempaskan bersama asa dan mimpi-mimpi mu.

Jalan aspal depan rumah masih belum rame dengan kendaraan dan seperti biasanya ayah mengajakmu turun menelusuri jalan setapak ini. Di sekeliling pohon tumbuh dengan rindangnya, kicau burung menambah semarak pagi ini, seekor tupai kecil melompat dari satu pohon ke dahan pohon lain, jari telunjukmu menunjuk seekor tupai yang sedang asik bermain sendiri. Apa yang kau lihat nak? Kau seolah tertarik dengan tupai itu, mata indahmu terus mengawasi segala gerak- gerik tupai kecil itu, sesekali kau tersenyum dan menatap mata ayah lalu kau tertawa, belajarlah dari alam nak, Ayah ceritakan tentang tupai yang meloncat, kau seolah tahu apa yang ayah ceritakan tentang kepintaran meloncatnya dan perlahan saat ayah Tanya ”Mana tupainya nak? Kau langsung menunjuk ke tempat tupai tadi bermain, akan tetapi tupai kecil sudah tidak terlihat lagi melompat dan berlalu pergi, dan kau pun membiarkan tupai itu berlalu.

Terus berjalan ke bawah melewati turunan yang tajam, sawah menghampar, di depan sebuah kali kecil airnya gemericik mengalir. Kubuatkan kapal –kapalan kecil dari daun untukmu  dan kita hanyutkan berdua di kali kecil itu, perlahan kapal pun terbawa arus. ”da-da da-da “ kata- kata kecilmu melepas  kapal yang berlalu pergi mengikuti aliran air jauh ke ujung sana.

Berdiri memandang gunung sumbing dengan awan yang sedikit menutupinya, mimpi ayah untuk mendaki bersamamu, kelak kalau kau sudah beranjak dewasa. 

Cintailah alam dan mendakilah gunung-gunung, berjalan lah jauh ,berpetualanglah carilah kenikmatannya dengan terus berpertualang.

Satu kupu-kupu hinggap di bunga kecil yang berwarna kuning, dan keingin tahuanmu pun memaksa ayah menjelaskanmu, mata indahmu tak lepas dari kupu-kupu kecil yang berwarna indah hitam dengan dibalut hiasan putih dan warna-warna yang menghiasi tubuhnya semakin membuat indah, sesekali terbang dari bunga satu ke bunga yang lain, dan kau anteng diam dan menikmati semua gerak- gerik yang ditunjukkan si kupu-kupu.

Jari-jarimu menunjuk dan bertepuk tangan dengan senangnya ” Pu..kupu kupu….kkupu..ayahh kupu”  Katamu sambil menunjukan kupu-kupu itu berada. Lama kau memandanginya dan kau semakin senang saat ada satu kupu-kupu lagi berwarna kuning kemerah-merahan  mendekat dan hinggap pada bunga yang sama.

Inilah keindahan alam, inilah kebebasan kupu-kupu untuk terbang dan menari untuk menghiburmu, dan ayah janji setiap ayah pulang akan mengajakmu melihat dan mencari keindahan yang oleh alam dihadirkan untuk kita nak.

Belajarlah dari alam dan lingkungan sekitarmu, suatu saat nanti kita akan berpetualang bersama menikmati kebebasan, keasingan daerah-daerah baru.

Kepalkan tanganmu, hantam congkaknya dunia, gandeng tangan adikmu bawa serta berpetualang, peluk erat dan doakan ayah dan ibumu, itu kebahagiaan kami sebagai orang tuamu.

@genk
Diambil dari catatan buku harian ayah tentang mu.
Di post juga di :  http://www.kompasiana.com/aozora/suatu-pagi-bersamamu_55e037de0ab0bd9a088099b1

No comments:

Post a comment

Damai Hati Ini Akan Selalu Ada

Hamparan sawah tandus menghampar sepanjang penglihatan dalam perjalanan ini, musim kemarau masih berlalu entah sampai kapan, bongkah...