Thursday, 11 February 2016

Menunggu Dalam Pilu



Kita masih berdiri di tanah yang sama, di bawah langit yang sama dan melihat purnama pada waktu yang sama walaupun pada jarak yang berbeda.
Mimpi serta anganku masih tergantung pada ujung langit pada satu bintang yang paling terang dan itu tak lain bintangmu.

Merasakan derita yang sama ketika kita saling merindu, namun tak tahu harus berbuat apa dan itu teramat menyesakkan. Sudah terlalu lama kita tidak bertemu dalam satu waktu.

Inginku berbincang bersama suatu saat nanti, dalam temaram sore menjelang senja, tentang mimpi, tentang cinta dan tentang semua kerinduan yang selama ini menyiksa.

Biarkan waktu berlalu dan kita hanya menunggu dalam pilu.

Ku tulis sajak rinduku pada kertas putih, sajak tentang aku dan kamu. biarlah angan kita menari seirama senja yang sebentar lagi menghilang, berharap kerinduan ini pun segera menghilang.

Andai aku punya sayap pada dua sisku, kan ku kepakkan sayap-sayapku terbang bersama angin
Menjemput kerinduan bersamamu
Menuju pucuk tertinggi ujung bumi
Hanya kita berdua aku dan kamu

Bukan sahdu yang ku mau, namun kesetiaan mu untuk menantiku itu yang membuat kita semakin menyatu.

@genk
Kosan (12/2/16)
sumber pic :
http://www.online-instagram.com/user/berkesenian/1435648238


Backsound.: Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan ( Payung Teduh )

Tak terasa gelap pun jatuh
Diujung malam menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya

Lalu mataku merasa malu
Semakin dalam ia malu kali ini
Kadang juga ia takut
Tatkala harus berpapasan ditengah pelariannya

Di malam hari
Menuju pagi
Sedikit cemas
Banyak rindunya




No comments:

Post a comment

Damai Hati Ini Akan Selalu Ada

Hamparan sawah tandus menghampar sepanjang penglihatan dalam perjalanan ini, musim kemarau masih berlalu entah sampai kapan, bongkah...