Friday, 27 May 2016

Rumah Si Pitung dan Sajak Kerinduan



Sekali lagi bukan jauh jarak perjalanan yang dilalui melainkan makna dan bagaimana perjalanan itu dimulai.Ada keseruan saat melakukan perjalanan bersama sahabat , dan perjalanann kali ini aku ditemani seorang sahabat baik ku Sony,  Sehabis sholat jumat kami memulai perjalanan ini, Tujuan ke utara Jakarta tepatnya rumah pitung di daerah Marunda. Mengandalkan ingatan Sony yang katanya pernah ke rumah pitung waktu kecil maka motor kesayanganya melaju mulus meninggalkan kosan.

Kami melewati kota Harapan Indah belok kiri kearah Banjir Kanal Timur dan terus melaju mengikuti jalur BKT hingga mentok selanjutnya belok kiri menuju arah Sekolah Tinggi Ilmu  Pelayaran, dari situ sudah dekat menuju ke lokasi.

Rumah pitung terletak di Jalan Kampung Marunda Pulo, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, rumah panggung bercet coklat ini konon katanya merupakan tempat tinggal si Pitung sang legenda Batavia.

 Rumah pitung

Setelah memarkir motor dan bayar tiket masuk 5k kami mulai melihat-liat rumah Pitung, berupa rumah panggung terbuat dari kayu, di dalamnya tidak banyak peninggalan yang bisa dilihat, beberapa lukisan, meja kursi, dan temapat tidur serta lampu gantung kuno.

                                                              Ruang tamu

Si Pitung adalah salah satu pendekar betawi berasal dari kampung Rawabelong Jakarta Barat. Selain itu Si Pitung menggambarkan sosok pendekar yang suka membela kebenaran dalam menghadapi ketidakadilan yang ditimbulkan oleh penguasa Hindia Belanda pada masa itu. Kisah pendekar Si Pitung ini diyakini nyata keberadaannya oleh para tokoh masyarakat Betawi terutama di daerah Kampung Marunda di mana terdapat Rumah dan Masjid lama(Wikipedia).


                                                                    Ruang tidur



Banyak versi cerita tentang keberadaan si pitung jawara betawi ini, yang pasti ia telah menjadi legenda khususnya bagi warga betawi.

Selepas dari rumah si Pitung saya melanjutkan perjalan, motor  melewati gang-gang kecil becek menuju sebelah timur di sana salah satu peninggalan si pitung juga masih terjaga yaitu berupa masjid.

 

Masjid kecil itu bercet coklat disisi depannya plang nama meberikan informasi kalau masjid ini bernama Masjid al Alam Marunda. Saya sempat menunaikan sholat ashar saya di keheningan dalam masjid. Tiang-tiang terlihat kokoh berdiri tegak , beberapa jamaah juga khusuk dalam doa-doa panjangnya. 

 Bagian dalam masjid
 

Sebelum pulang , kami menengok pantai marunda yang letaknya tak begitu jauh hanya berjalan sebentar melewati gang kecil di lapak penjual makanan.
Kapal-kapal besar terlihat banyak bersandar, terlihat juga beberapa orang sedang memancing, hamparan luas laut Jakarta dengan ombak kecil yang sesekali menghantam kokoh tembok .


Duduk merenung, memandang lalulintas kapal , menikmati angin laut dan menikmati senja  yang sore ini tertutup oleh polusi jakarta. 
Dan terciptalah sajak akan kerinduan

Dari ombak yang menderu...ku dengar rindumu
Dari camar yang bernyanyi ku rasa kasihmu
Dari pasir yang berbisik kularut dalam cintamu


Satu waktu kita kan bertemu
Menunggu dalam ujung waktu yang jenuh
Bercerita tentang mimpi , tentang cinta dan kerinduan


Aku rindu laut
Aku rindu pantai
Dan aku rindu hadirmu


Menemani waktu sendiriku
Dalam sunyi
Dalam bosan yang tak berujung.


Untukmu sayang ku tuliskan sajak ini
Sajak kerinduan
Jagan pernah kau tanya tentang cintaku
Karena dalam diamku, sepenuh hatiku untuk mu...







No comments:

Post a comment

Damai Hati Ini Akan Selalu Ada

Hamparan sawah tandus menghampar sepanjang penglihatan dalam perjalanan ini, musim kemarau masih berlalu entah sampai kapan, bongkah...