Monday, 18 July 2016

Desa Ku Yang Permai





Ada rasa tenang, damai ketika kaki ini menginjakkan pada tanah kelahiran,pada tanah tempat tumbuh semenjak kecil hingga beranjak dewasa, sebuah desa kecil nan permai di pinggiran kota Jogja.

Ini merupakan kesekian kalinya aku pulang , merasakan udara segar pedesaan , keramahan penduduk dan alam desanya yang asri. Desa kecil ini bernama desa Kaweden, sebuah desa  di pinggiran barat kota Jogja, tidak begitu terkenal namun cukup asri ketika langkah-langkah kaki ini menelusuri disetiap sudut desa.

Tak bosan rasanya untuk kembali setiap waktu, ketika jenuh mengusik disela- sela hiruk pikuk penat kehidupan ibu kota. Sedikit menghirup udara segar pedesaan, dengan bersepeda pagi hari di tengah jalan aspal sawah sambil menikmati hijau pesawahan, melihat tanaman pagi yang bapak tanam di petak sawahnya, berharap kelak panen padinya melimpah sebagai bekal stok bahan makanan pokok dan sedikit sisanya dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.


Ingatanku kembali ke masa kecilku, masa dimana hari -hariku begitu berwarna dan begitu bahagia ketika setiap sore bermain laying-layang di pematang sawah bersama teman-teman kecil, menggembalakan kambing tetangga sambil bercanda dan bermain, mencari belalang dan anak kodok di sawah untuk keisengan belaka, dan pada akhirnya melihat indah lembayung senja dan angkuh gunung merapi disore menjelang senja selanjutnya pulang sebelum adzan magrib berkumandang. Sejenak ikut meramaikan masjid bersama- sama dengan bacaan iqra, setelah magrib sampai isya dalam kesunyian dan kedamaian desa ini.


Banyak sudah kemajuan  yang telah terjadi pada desa kecil ini, rumah-rumah sudah semakin bagus dan kokoh berdiri, jalan yang dulu tanah kini sudah full konblok, benteng pagar yg dulu dari tanaman kini berubah menjadi batako dan satu yang tak berubah keramahan dan kedamaian akan penduduknya yang setiap waktu aku rindukan.

Menikmati malam panjang dengan segelas kopi bersama teman masa kecil disetiap aku pulang adalah sebuah kebahagiaan tersendiri, bercerita tentang masa lalu sambil tertawa mengingat kisah klasik masa lalu dan saat-saat inilah ketika masa lalu tak bisa terulang lagi kita cukup duduk bersama dan sejenak mengenangnya, sambil menikmati hangat kopi dan sebatang rokok kesukaan.

Desa ini sudah menjadi bagian hidup kisah perjalananku, kelak ketika aku sudah lelah berpetualang sejauh yang ku mampu dalam pencariaan makna hidup, desa ini akan menjadi tujuan akhirku untuk kembali mengabdikan diri dan membangunya sesuai dengan kemampuanku. Dan rasa- rasanya panggilan hati untuk lekas kembali sudah terniang-niang dalam anganku.

  
Hijau dan asrinya desa ini akan terjaga ketika sawah-sawah tetap menjadi lahan bagi petani untuk bercocok tanam sesuai dengan fungsi sawah itu sendiri. Berharap persawahan akan tetap menjadi persawahan, menginggat beberapa sawah sudah menjadi perumahan, tak terbayang ketika pesawahan menjadi komplek perumahan mewah, kelak tak akan ada lagi cerita tentang hijau pesawahan, tak kan ada lagi tempat bermain layang-layang kembali dan tak akan ada lumbung padi untuk bekal anak cucu kita kelak.

Dan semoga desa ini akan tetap menjadi desa yang asri, damai, ramah seramah para warganya.
Berbahagialah kalian yang tinggal di desa tercinta ini.


@genk


2 comments:

  1. Jadi teringat masa kecil mas dab. Apalagi klo sedang sendiri..memang masa kecil akan slalu menjadi history yg ga akan terlupakan..hik..hik..hik..

    ReplyDelete
  2. ha ha iya mas dab..waktu rasanya cepet banget berlalu ya....

    ReplyDelete

Damai Hati Ini Akan Selalu Ada

Hamparan sawah tandus menghampar sepanjang penglihatan dalam perjalanan ini, musim kemarau masih berlalu entah sampai kapan, bongkah...