Tuesday, 18 October 2016

Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu





Kebenaran akan tetap menjadi sebuah kebenaraan walaupun harus menunggu lama untuk mengungkapnya. Aksenof seorang saudagar muda yang tinggal di kota Vladimir dalam suatu perjalanan ia dituduh membunuh seseorang di dalam penginapanya, kemudian ia dihukum bertahun-tahun dalam penjara.
Beberapa tahun kemudian ia bertemu dengan orang yang membunuh teman perjalanannya dulu, seseorang bernama Makar yang kini juga mendekam di penjara yang sama.

Pada suatu hari Makar ingin mencoba meloloskan diri dengan cara menggali tanah dari dalam bilik penjara, Aksenof mengetahui akan hal tersebut, dan tak lama kemudian penjaga mengetahui adanya lubang tersebut dan menanyakan siapa pembuat lubang tersebut. Aksenof pun ditanyai karena menurutnya ia seorang yang baik dan pasti tahu siapa orang yang membuat lubang tersebut, namun Aksenof tidak menceritakan siapa orangnya.

Hal ini membuat Makar semakin merasa bersalah terhadap Aksenof, menginggat ia lah orang yang membuat Aksenof masuk ke dalam penjara, ia berniat untuk minta maaf dan akan menebus kesalahannya, ia ingin membebaskan Aksenof dengan pengakuan bahwa ia lah sebenarnya orang yang membunuh pada waktu dulu. Sayang sebelum Aksenof dibebaskan ia telah terlebih dahulu bebas jiwa raganya menghadap Sang Kuasa, kebenaran akan menumui jalannya sendiri tak peduli berapa lama ia harus terungkap.

Cerita tersebut merupakan karya Leo Tolstoy bisa dibaca dibuku kumpulan cerita Leo Tolstoy yang berjudul “ Tuhan Maha Tahu Tapi Dia menunggu.”  Tak hanya bercerita tentang kebijaksanaan, Leo Tolstoy juga banyak bercerita tentang kesepian, perdamaian, perenungan-perenungan dan cinta kasih.

Pada bagian cerita yang berjudul “ Berapa Luaskah Tanah Yang Diperlukan Seseorang?”  Ia menceritakan  sifat tamak  akan harta benda yang menyebabkan sebuah kematian.

Pokham seorang tamak yang berkeinginan membeli tanah yang luas, ia diberi kesempatan untuk mengukur tanah sendiri yang ingin dibelinya, penjualnya memberi kebebasan untuk mengukur tanah seluas-luasnya tapi dengan batas waktu satu hari ia harus kembali ke titik awal ia berangkat dan seberapa luas tanah itu akan menjadi miliknya.

Karena rasa tamak dan merasa masih belum puas terhadap tanah yang telah ia ukur, Pokham terus berjalan dan mengukur tanah yang ingin dibelinya, namun menjelang batas ahir ia kehabisan tenaga untuk kembali ke ke titik awal, ia mati sebelum sampai garis finish yang sudah ditentukan, ia terbunuh sendiri oleh ketamakannya.

Karya-karya Leo Tolstoy bercorak realistis dan bernuansa religius, renungan-renungan akan moral dan tak sedikit tentang filsafat.

Dalam buku kumpulan cerita Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu ,kita juga bisa membaca cerita-cerita legendaris diantaranya Ilyas, Ziarah, Berapa Luaskan Tanah Yang Diperlukan Seseorang, Tuhan dan Manusia, matinya ivan llyich dll.

Membaca buku ini serasa berguru akan kebijaksanaan seorang Tolstoy, tak salah ia menjadi sastrawan kebanggaan bangsa Rusia, dan buku ini menjadi salah satu jalan untuk mengenalnya, lewat cerita , perenungan dan pemikiran yang ia ungkapkan melalui karya-karya sastranya.

@genk

No comments:

Post a comment

Damai Hati Ini Akan Selalu Ada

Hamparan sawah tandus menghampar sepanjang penglihatan dalam perjalanan ini, musim kemarau masih berlalu entah sampai kapan, bongkah...