Saturday, 21 December 2019

Kutukan Cinta Pertama


Sekian lama mereka tidak bertemu, hingga saat ini pun aku rasa mereka tidak pernah bertemu lagi, hanya sederet digit nomer handpone yang terkadang menghubungkan jarak keduanya, itupun hanya sebentar dan ketika rasa itu kembali mengusik, ketika keberanian dan ragu  untuk bertanya kabar sedang apa kau gerangan di jauh sana…?

Bisikan hati kecil selalu mengusik rasa ingin tahunya, mengais kembali  sisa-sisa serpihan luka dan cinta diantara keduanya. Kenangan masa silam yang hanya sebentar namun walau hanya sebentar rasa itu terbawa hingga saat ini, terpendam dan menjadi penjara hati bagi keduanya.

Inikah yang orang-orang menamakanya sebagi kutukan cinta pertama?  Kutukan tentang cinta pertama yang susah untuk dilupakan, berkesan tanpa bait kata yang indah namun berasa begitu mempesona, ketika ketulusan hati masih begitu lugu berjalan dalam satu waktu dalam getaran hati yang terdalam terkutuklah aku….dalam bait-bait dan kenanganmu.

Ia mengawali hari dengan secangkir kopi hitamnya, dari cangkir putih yang biasa ia gunakan, menunggu pagi sambil berhayal pada hangat mentari pagi yang sebentar lagi ia nantikan.

Tak banyak yang ia kerjakan, melamun dan mencoba merangkai kan kata-kata indah untuk puisi-puisi barunya, menuliskannya dalam lembaran putih ruang rindunya.
Pikiranya masih menerawang jauh pada masa itu, masa ketika ia merasakan getaran yang tidak biasa dalam hatinya, ketika ia belum sepenuhnya tahu arti kata merindu, namun begitu nyaman berada dekat disisinya. Ia merindukan kembali masa itu dalam lamunan paginya.

Sosok perempuan masa lalunya masih terekam jelas dalam ingatan, senyum manisnya, lesung pipinya ia masih begitu merindukanya, ia begitu mengagumi pada masanya, dan saat inipun aku rasa ia masih mengaguminya, walaupun sekadar untuk berkata ( hai…) ia berat melakukanya, ia sadar ia bukan siapa-siapa, hanya pengagum sosok perempuan yang dulu pernah singgah dan  kini masih tetap dikenangnya.

Semua hanya bisa mengenang selanjutnya menjauh dengan sisa-sisa keikhlasan yang masih ia miliki. Mendengar ia bahagia sudah cukup untuk menghibur dirinya, ia merelakan semuanya tak berjalan sesuai rencanaya, takdir berkata lain,Tuhan maha berkehendak , ia sadar sesadar-sadarnya.
Sejenak ia kembali menyruput kopi hitam dalam cangkir putihnya, menyadarkan diri atas lamunan-lamunan sesaat, kemudian tenggelam lagi dalam penyiksaan diri, perenenguan akan masa lalunya.

Ia menjalani tragisnya kutukan cinta pertama, sekeras ia berusaha untuk melupakannya, sekeras itu pula rindu itu menyiksa batinya…terlalu kejam untuk sebuah kutukan atas nama cinta.

Entah sampai kapan ia akan bertahan pada perasaan hatinya , pada cinta yang mengusik disetiap malamnya, pada perempuan cantiknya  yang  hanya bisa ia kagumi dan pada bayang yang menari tanpa bisa ia menggapainya.

Ia menuliskan sebaris kata mengahiri lamunan pagi pada ruang rindunya
“Terkutukku terkoyak pada sisa-sisa sepi dari perempuan yang tak pernah  diikhlaskan “

@kosan des 19
Ditulis dari curhat seorang teman diiringi lagu “ Kucari Kamu “  Payung Teduh


No comments:

Post a comment

Damai Hati Ini Akan Selalu Ada

Hamparan sawah tandus menghampar sepanjang penglihatan dalam perjalanan ini, musim kemarau masih berlalu entah sampai kapan, bongkah...